Gambar Sampul Seni Budaya · BAB 7 MERANCANG NASKAH ADAPTASI
Seni Budaya · BAB 7 MERANCANG NASKAH ADAPTASI
Sem Cornelyus Bangun

24/08/2021 12:25:44

SMA 11 2013

Lihat Katalog Lainnya
Halaman

57

Seni Budaya

Menyusun Staf Artistik

Pada pelajaran Bab 15, peserta didik diharapkan tanggap dan

melakukan aktifitas berkesenian, yaitu

1.

mendiskripsikan rancangan pementasan teater,

2.

mengidentifikasi kebutuhan pementasan teater,

3.

melakukan eksplorasi tata teknik pentas dalam bentuk

rancangan pentas,

4.

melakukan rancangan tata teknik pentas, dan

5.

mengomunikasikan hasil tata teknik pentas baik secara lisan

maupun secara tulisan.

Aktifitas Mengamati

1.

kamu dapat mengamati pementasan tea

ter bertema keluarga

(rumah tangga) dari sumber lain seperti internet, menonton

melalui video (VCD), dari sumber belajar lainnya.

2.

Kamu dapat mengamati pementasan tea

ter remaja, atau teater

tradisional melaui sumber belajar lain.

Merancang

Naskah Adaptasi

BAB

7

58

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

Format Diskusi Hasil Pengamatan Modifikasi Karya Tari

Nama anggota

:

Hari/t

anggal pengamatan

:

No.

Aspek yang Diamati

Uraian Hasil Pengamatan

1

Tata Panggung

2

Tata Suara

3

Tata Cahaya

Aktifitas Menanyakan

Setelah mengamati pementasan teater dan tata pentas dari

sumber lain.

A. Berekspresi

Melalui

Karya

Seni

Teater

Berdasarkan

Naskah

Adaptasi

Dalam mengadaptasi naskah asing berbagai hal harus

dipertimbangkan. Karena lakon yang akan kita pertunjukkan tidak

hanya sebagai sarana hiburan, tapi juga sebagai sarana pengajaran.

Naskah harus mempunyai nilai-nilai pendidikan. Karenanya harus

dipertanyakan beberapa hal:

1.

Apaka

h naskah yang akan diadaptasi mempunyai premise

(rumusan dari intisari cerita)? Semua naskah drama yang

baik mempunyai premise.

Contohnya:

“Machbeth” karya Williams Shakespeare. Premise: “Nafsu

angkara murka membinasakan diri sendiri”.

“Tartuffe” karya Moliere. Premise: “Siapa menggali lubang

untuk orang lain, akan terjerumus sendiri di dalamnya”.

“Api” karya Usmar Ismail. Premise: “Ambisi angkara

membinasakan diri sendiri”

2.

Apaka

h Alur (plot) dari naskah yang akan diadaptasi itu

memiliki nilai-nilai dramatis?

Contohnya: Lakon “Api” karya Usmar Ismail, yang

adegannya dimulai saat R. Hendrapati mengambil keputusan

untuk melaksanakan ambisi serakahnya, yaitu menemukan

formula obat peledak yang belum dikenal manusia, agar

ia memperoleh kemasyhuran di seluruh dunia. Dan untuk

melaksanakan keinginannya itu, ia mau saja menempuh jalan

yang sesat dengan mengorbankan siapa saja yang hendak

59

Seni Budaya

menghalanginya. Istri dan anaknya bertekad untuk melawan

kehendak R. Hendrapati. Timbullah kekalutan-kekalutan yang

mengakibatkan peristiwa-peristiwa dramatis dalam keluarga

R. Hendrapati, yang mana saat-saat tersebut bukan saja akan

menentukan gagal atau berhasilnya R. Hendrapati tapi juga

menentukan masa depan kehidupan keluarganya.

3.

Apaka

h tokoh-tokoh dari naskah yang akan diadaptasi itu

merupakan tokoh-tokoh yang hidup?

Yang dimaksud dengan tokoh yang hidup adalah tokoh

yang memiliki 3 dimensi:

Dimensi phisiologis, ialah ciri-ciri badani; usia, jenis

kelamin, keadaan tubuhnya, ciri-ciri tubuh, wajah,dll.

Dimensi Sosiologis, ialah ciri-ciri kehidupan masyarakat;

status sosial, pekerjaan, jabatan, peranan dalam masyarakat,

pendidikan, kehidupan pribadi, agama, aktifitas sosial,

kegemaran, kewarganegaraan, keturunan, suku, bangsa, dll.

Dimensi psikologis, ialah ciri-ciri kejiwaan; ukuran-ukuran

moral baik dan buruk, mentalitas, temperamen, keinginan-

keinginan pribadi, sikap, kelakuan, kecerdasan, keahlian,

kecakapan, dll.

4.

Apaka

h setting peristiwa dari naskah yang akan diadaptasi

itu mempunyai kemiripan atau kesamaan dengan adat dan

budaya di Nusantara?

Dengan adanya kemiripan atau kesamaan adat dan budaya,

akan memudahkan kita untuk memindahkan setting peristiwa

dari lakon yang akan diadaptasi.

CONTOH NASKAH ADAPTASI DARI DRAMAWAN FILIPINA,

MARCELINO ACANA JR OLEH NOORCA MARENDRA.

DRAMA PANGGUNG KOMEDI SATU BABAK

“MENTANG-MENTANG DARI NEW YORK”

SETTING

(RUANG TAMU DI RUMAH KELUARGA BI ATANG DI

KAMPUNG JELAMBAR. PINTU DEPANNYA DI SEBELAH

KANAN, JENDELA SEBELAH KIRI, DI SEBELAH KIRI PENTAS

INI, ADA SEPERANGKAT KURSI ROTAN, DI SEBELAH

KANAN ADA RADIO BESAR YANG MERAPAT KE DINDING

BELAKANG. DI TENGAH DINDING ITU ADA SEBUAH PINTU

YANG MENGHUBUNGKAN RUANG TAMU DENGAN BAGIAN

DALAM RUMAH ITU. PAGI HARI, KETIKA LAYAR TERBUKA,

TERDENGAR PINTU DEPAN DIKETUK ORANG, BI ATANG

MUNCUL DARI PINTU TENGAH SAMBIL MELEPASKAN

APRONNYA, DAN BERSUNGUT-SUNGUT. BI ATANG INI

ORANGNYA AGAK GEMUK, JIWANYA KUNO. TAPI TUNDUK

60

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

TERHADAP KEMAUAN ANAK PEREMPUANNYA YANG SOK

MODERN. OLEH KARENA ITU MAKLUM KALAU BAJU

RUMAHNYA GAYA BARU. APRONNYA BERLIPAT-LIPAT, DAN

POTONGAN RAMBUTNYA YANG DI “MODERN”KAN ITU

TAMPAK LEBIH TIDAK PATUT LAGI).

BI ATANG

(SAMBIL MENUJU PINTU). tamu lagi, tamu lagi, tamu lagi!

Selalu ada tamu yang datang. Saban hari ada tamu, sial, kaya

orang gedongan saja. (MEMBUKA PINTU DAN ANEN MASUK

DENGAN BUKET DI TANGANNYA, PAKAIANNYA PERLENTE,

DAN IA TERTEGUN DI PINTU MENATAP BI ATANG DENGAN

GUGUP MEMPERHATIKAN BI ATANG KE BAWAH).

Eh ... Anen! Bibi kira siapa? Ayo masuk!

ANEN

Tapi ... ini Bi Atang bukan?!

BI ATANG

(TERTAWA). Anen! Anen! Kalau bukan Bibi, siapa lagi? Dasar

anak bloon. Kamu kira aku ini siapa hah? Nyonya Menir?

ANEN

(TERSIPU). Habis kelihatannya kayak nyonya besar sih.

BI ATANG

(TERSIPU SAMBIL MEMEGANG RAMBUTNYA YANG

PENDEK). Kemarin rambut ini Bibi potong di kap salon, biar

kelihatan modern, kata si Ikah. Apa kelihatannya sudah cukup

mengerikan?

ANEN

Oh ... tidak, tidak. Malah kelihatannya cantik sekali. Tadi saya

kira Bibi ini, Ikah, jadi saya agak gugup tadi. Maklum sudah lama

tidak ketemu.

BI ATANG

Ah dasar! Kamu dari dulu nggak berubah juga. Nakal (MENCUBIT

PIPINYA). Ayo duduk! (ANEN DUDUK). Bagaimana kabar ibumu?

ANEN

Wah kasihan Bi, ibu sudah kangen sama Bibi. Katanya ia tidak

tahan lama-lama meninggalkan Jelambar. Malah ia ingin cepat-

cepat pulang.

BI ATANG

(MENDEKAT). O ya, sudah berapa lama ya, kalian pergi dari sini?

61

Seni Budaya

ANEN

Belum lama Bi, baru tiga bulan.

BI ATANG

Baru tiga bulan? Tapi tiga bulan itu cukup lama buat penduduk asal

Jelambar yang pergi dari kampung ini. Kasihan juga ya, rupanya

ibumu sudah bosan tinggal di Karawang.

ANEN

Iya, tapi maklum Bi, buat insinyur-insinyur macam saya ini, kerja

di sana cukup repot. Dan kalau jembatan Karawang itu sudah kelar,

kami pasti akan segera kembali ke sini. Jelambarkan tanah tumpah

darah kami. Begitu kan Bi?

BI ATANG

Orang kata Nen, biar jelek-jelek juga lebih enak tinggal di kampung

sendiri.

(TIBA-TIBA IA TERINGAT SESUATU). Tapi ini betul atau tidak

entahlah. Kalau melihat anak Bibi si Ikah yang telah pergi ke

Amerika dan tinggal setahun di sana, katanya bahkan ia tidak

pernah rindu kampung halaman.

ANEN

(MULAI GUGUP LAGI). Ka ... ka... kapan Ikah datang ke sini, Bi?

BI ATANG

Dari Senin kemarin, kenapa?

ANEN

O ... pantas, saya baru tahu waktu saya baca di koran, katanya

Ikah sudah pulang dari New York, jadi ... jadi ...

BI ATANG

(PENUH ARTI). Jadi kamu datang ke sini bukan?

ANEN

(TERSIPU). Ah ... Bibi bisa saja!

BI ATANG

(MENGELUH). Anak itu baru datang Senin kemarin, tapi coba

lihat sudah berapa banyak badan Bibi dipermaknya. Lihat! Waktu

pertama kali ia datang dan melihat Bibi, ia marah-marah, katanya,

Bibi harus segera bersalin rupa. Bibi yang sudah tua Bangka ini

harus dipermak, biar jangan kampungan. Bibi pagi-pagi sekali

sudah diseret ke salon, dan kamu bisa lihat hasilnya. Saksikan

perubahan apa yang telah menimpa diriku secara revolusioner ini!

Rambutku dibabat habis, alis dicukur, kuku dicat, dan kalau Bibi

pergi ke pasar harus memakai gincu pipi dan lipstick. Bayangkan,

apa nggak persis kodok goreng? Semua teman-teman Bibi di pasar,

di jalanan pada menertawakan Bibi. Mereka pikir Bibi sudah agak

62

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

saraf, masa Tua Bangka begini di coreng moreng. Kaya tante girang

saja. Tapi apa musti Bibi perbuat? Kamu tahu sendiri adatnya si

Ikah, Bibi nggak bisa berselisih paham dengan dia. Katanya Bibi

harus belajar bersikap dan bertingkah laku seperti seorang wanita

Amerika. Seperti

first lady

! Seperti orang metropolitan, karena Bibi

punya anak yang pernah tinggal di Amerika. Busyet deh, apa Bibi

ini kelihatan kayak orang Amerika.

ANEN

(GELISAH MENANTIKAN IKAH). Iya ... iya. Bibi kelihatan hebat

sekali. Dan ... di mana dia sekarang?

BI ATANG

Siapa?

ANEN

Ikah! Apa Ikah ada di rumah?

BI ATANG

(MENDENGUS). Oooo ... ada! Tentu saja dia ada di rumah. Ia

sedang tidur!

ANEN

(SAMBIL MELIHAT JAM TANGANNYA). Masih tidur?!

BI ATANG

Ia, masih tidur! Kenapa? Heran? Kata dia orang-orang New York

itu baru bangun setelah jam dua belas siang.

ANEN

(SAMBIL MELIHAT JAM TANGANNYA). Sekarang masih jam

sepuluh.

BI ATANG

Di samping itu, ia juga sangat sibuk, sibuk sekali, anak itu sibuk

bukan main sejak ia pulang. Ia berpuluh kali mengadakan pesta

selamat datang. Di mana-mana, dan tamu-tamu tiada hentinya ke

luar masuk, anak itu betul-betul bikin pusing orang tua!

ANEN

(BERTAMBAH SEDIH). Kalau begitu ... tolong katakan saja

kepadanya, bahwa saya telah datang ke mari, ... untuk ... untuk

... mengucapkan selamat datang. Oh ya, tolong juga berikan bunga

ini kepadanya.

BI ATANG

(MENERIMA BUNGA). Tapi kau jangan pergi dulu, Nen. Tunggu

sebentar!

63

Seni Budaya

ANEN

(MANGGUT). Begini Bi, tadinya saya ingin ketemu sama Ikah,

tapi kalau ia baru bangun setelah jam dua belas siang, yah ...

BI ATANG

(BERGEGAS). Ia akan bangun sekarang juga dan akan bertemu

dengan kamu Nen! Kenapa ia mesti belagu begitu? Kamu sama

diakan sama-sama dibesarkan di kampung ini! Duduklah Bibi mau

membangunkan dia!

ANEN

Wah jangan Bi, jangan diganggu, biar saja. Lagi pula saya datang

ke sini lain hari.

BI ATANG

Sudah! Kamu tunggu saja di sini. Ia malah akan senang sekali

bisa ketemu teman lama waktu kecil., dan ia ingin sekali secara

pribadi mengucapkan terimakasih atas pemberian bungamu ini.

(MEMPERHATIKAN DAN MECIUM BUNGA ITU) Ah ...

alangkah indahnya buket bunga ini Nen, pasti mahal sekali harganya!

(MENGERILIKKAN MATANYA DAN MASUK KE DALAM).

ANEN

(SAMBIL DUDUK) Ah itu bukan apa-apa, Bi Atang!

BI ATANG

(TERTAWA DAN TIBA-TIBA BERHENTI DI PINTU). Oh, ya

Nen ...

ANEN

Ada apa, Bi?

BI ATANG

Di depan dia nanti, kamu jangan manggil aku Bi Atang, ya!

ANEN

Lho, memangnya kenapa, Bi?

BI ATANG

Si Ikah tidak suka aku dipanggil Bi Atang, kampungan! Katanya, aku

harus mengatakan kepada setiap orang supaya mereka memanggilku

Nyonya Aldilla, dan katanya lagi, panggilan itu lebih beradab

daripada Bi Atang. Maka dari itu, khususnya kalau di muka si Ikah

kamu harus memanggilku Nyonya Aldilla, paham?

ANEN

Baik Bi Atang ... eh maksud saya Nyonya Aldilla!

64

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

BI ATANG

Tunggu sebentar yah, aku mau memanggil Ikah. (MASUK).

ANEN

(MENARIK NAFAS). Hhhhhhhh! Ada-ada saja. Dasar orang

kampung ...!

BI ATANG

(TIBA-TIBA MUNCUL KEMBALI). Oh ya, Anen aku hampir lupa.

ANEN

Astaga. Ada apa lagi Bi Atang? Eh Nyonya ... Nyonya siapa tadi?

BI ATANG

Nyonya Al – dil – lla.

ANEN

Oh ya, ada apa Nyonya Aldilla?

BI ATANG

Kamu jangan memanggil Ikah itu dengan “Ikah”.

ANEN

(BINGUNG). Lalu harus memanggil si Ikah dengan apa saya?

BI ATANG

Kamu harus memanggilnya dengan Francesca.

ANEN

Fransisca.

BI ATANG

Bukan, bukan Fransisca, tapi Fran – ces – ca.

ANEN

Tapi ... kenapa mesti Francesca, Nyonya?

BI ATANG

Sebab, katanya, semua orang-orang di New York memanggilnya

Francesca, begitulah cara semua orang Amerika mengucapkan

namanya, dan ia menginginkan semua agar orang sini pun

mengucapkannya demikian. Katanya nama itu kedengarannya

begitu “ci –ci”, seperti orang Italia. Oh ya kamu tahu, bahwa di

New York banyak orang menyangkanya berasal dari Italia? ...

Seorang Italia dari California, katanya, oleh karena itu, hati-hatilah

dan ingat jangan memanggilnya Ikah, ia benci nama itu. Panggilah

dia Francesca, biar dia girang.

65

Seni Budaya

ANEN

(MENJATUHKAN DIRINYA DI KURSI). Baiklah Nyonya Al –

dil – llaaaaaaaaaa

BI ATANG

(HENDAK MASUK). Sekarang tunggulah di sini selagi aku

memanggil Francesca. (TIBA-TIBA PINTU DEPAN DIKETUK

ORANG). Eh ... busyet deh tamu lagi!

ANEN

(BANGUN MENUJU KE PINTU). Biarlah saya yang membukanya

Nyonya Aldilla.

BI ATANG

Katakan saja kepada mereka supaya menunggu! (KETIKA PINTU

DIBUKA, OTONG MASUK DAN MATANYA MELIHAT ANEN,

IA SEGERA MEMELUK ANEN. DAN MEREKA BERPELUKAN

SAMBIL KETAWA BERDERAI).

ANEN

Elu Tong, gue kira siapa? Wah ... menyenangkan betul kita bisa

ketemu lagi ya?

OTONG

Aku kira kau masih di Karawang, Nen!

ANEN

Memang masih di sana Tong, aku ke sini cuma mau ngasih selamat

sama si Ikah, diakan baru pulang dari luar negeri.

OTONG

Tapi aku dengar ada sesuatu yang tidak baik menimpa anak itu.

ANEN

(DUDUK) Akupun begitu juga, agak gawat katanya.

OTONG

(DUDUK) Kata orang-orang dia agak saraf, apa betul ya?

ANEN

(GELISAH). Ah enggak, itu sih omongan sentimen saja, yang betul

sih dia baru pulang dari New York.

OTONG

Lalu ngapain dia jauh-jauh pergi ke sana?

ANEN

Anu, belajar, katanya.

66

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

OTONG

Belajar apa? Kuliah?

ANEN

Bukan, anu, belajar menata rambut dan kecantikan. Ia malah sudah

dapat ijazah.

OTONG

Wah ... hebat dong si Ikah sahabat kita yang tersayang itu.

ANEN

Tapi, maaf-maaf nih ya. Namanya sekarang bukan Ikah lagi, tapi

Francesca.

OTONG

Fran – ces – ca?

ANEN

Nona Jelambar itu sekarang sudah jadi seorang nona New York,

teman lama kita Ikah sekarang telah jadi seorang gadis Amerika

yang modern.

OTONG

Si Ikah? (ANEN MENGANGGUK). Seorang Amerika? (ANEN

MENGANGGUK). Yang bener lu! Jangan bikin aku ketawa, aku

kan tahu sejak dia masih suka jualan kue apem di kampung ini?!

BERDIRI MENIRUKAN ANAK PEREMPUAN JUAL APEM). Apem

... ! Apeeemm! Apemmmm! Apemmm! Ayo siapa mau jangan

bungkem!!! (TERDENGAR PINTU DEPAN DIKETUK ORANG,

OTONG SEGERA MEMBUKANYA DAN DARI LUAR FATIMAH

MASUK, DIA ANAK GADIS SEORANG YANG CUKUP KAYA).

FATIMAH

Lho! Kok kamu ada di sini, Tong? Lho! Anen juga! Apa-apaan ini?

Memangnya sekarang ada reuni anak-anak berandalan dari Jelambar?

OTONG

Kami kumpul di sini untuk menyambut seorang wanita terhormat

yang baru datang dari New York.

FATIMAH

Oh ya? Aku juga, apa dia ada di rumah?

ANEN

Bi Atang sedang mencoba membangunkannya.

FATIMAH

Membangunkannya? Busyet! Apa tengah hari begini dia masih

bermimpi?

67

Seni Budaya

BI ATANG

(MUNCUL DARI DALAM). Tidak, dia sudah bangun dan sekarang

sedang berpakaian, oh ya selamat pagi Fatimah, selamat pagi Otong.

(OTONG DAN FATIMAH SALING BERPANDANGAN. DENGAN

MUKA LESU IA MENATAP BI ATANG YANG MEMBAWA VAS

BUNGA KIRIMAN ANEN TADI. DAN BI ATANG DENGAN

SUNGGUH-SUNGGUH BERJALAN MELINTASI RUANGAN ITU

YANG SEKETIKA MENJADI SUNYI DAN TIBA-TIBA OTONG

BERSIUL DENGAN KURANG AJAR MENGGODA BI ATANG).

BI ATANG

Bagaimana Otong, Fatimah? Dibilang selamat pagi kok pada

bengong, dan mengapa melihat aku dengan pandangan seperti itu?

FATIMAH

Ini Bi Atang atau siapa?

BI ATANG

Astagfirullah! Siapa lagi kalau bukan? Apa kalian sudah tidak

bisa mengenal makhluk ini lagi? Ini kan Bi Atang, penduduk asli

Jelambar yang terkenal itu! (MENJATUHKAN DIRI DI KURSI).

ANEN

Oh ya Tong, sekarang Bi Atang tidak boleh dipanggil Bi Atang,

dia mau supaya kita memanggilnya Nyonya Aldilla.

OTONG + FATIMAH

Nyonya Aldilla?

BI ATANG

(MALU). Ah ... kamu kan tahu sendiri, Nen. Bukan Bibi yang

menginginkan panggilan itu. Tapi si Ikah, oh Francesca, oh ya,

ia senang sekali dengan bunga-bunga ini Nen, dan katanya ia

mengucapkan banyak terimakasih atas kirimanmu ini. (MELIHAT

FATIMAH). Dan kamu Fatimah, kalau tidak berhenti menganga

begitu, aku cubit pipimu! Mari, Tong, ikut aku ke dapur! Aku mau

minta tolong sesuatu.

FATIMAH

Eh ... Bi Atang, jangan repot-repot kami kan bukan tamu, dan

belum lapar.

BI ATANG

Jangan kuatir, Bibi mana mau ngasih makan kalian, Cuma sekedar

air jeruk saja. Aku menyediakan buat Ikah, sebab kalau pagi-pagi

ia tidak makan apa-apa. Katanya, di New York tidak ada seorang

pun yang sarapan pagi-pagi. (BI ATANG DAN OTONG MASUK,

TINGGAL ANEN DAN FATIMAH YANG TERDIAM BEBERAPA

SAAT. ANEN DUDUK, FATIMAH BERDIRI DI BELAKANG

SOFA).

68

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

FATIMAH

Bagaimana Anen?

ANEN

Seharusnya kau jangan datang hari ini Fat.

FATIMAH

Kenapa tidak boleh?

ANEN

Aku masih belum bicara dengan Ikah.

FATIMAH

Kau belum bicara sama Ikah? Aku kira tadi malam kau sudah

bicara di sini!

ANEN

Aku kehilangan keberanian dan tadi malam aku tidak ke sini.

FATIMAH

Oh ... Anen ... Anen!

ANEN

(TERSINGGUNG DAN MENIRUKAN GAYA FATIMAH). Oh

... Fatimah ... Fatimah! Setiap lelaki yang harus memutuskan

pertunangannya akan mengalami kesulitan, itu bukan sebuah hal

yang biasa, dan ... ya Tuhan ... itu bukan soal gampang.

FATIMAH

(MENYERANG). Kamu mencintai si Ikah atau aku?

ANEN

Tentu saja aku mencintaimu, Fatimah, kitakan sudah bertunangan.

FATIMAH

(GETIR). Iya, dan kamupun bertunangan pula dengan si Ikah!

ANEN

Tapi itukan setahun yang lalu!

FATIMAH

(MARAH). Dasar laki-laki! Kutu loncat kau! (PERGI).

ANEN

(BANGKIT DAN MENGIKUTI) Fatimah! Kamu kan tahu kalau

hanya engkau yang kucinta!

FATIMAH

(BERBALIK). Tapi kau juga sudah bertunangan dengan si Ikah?!

69

Seni Budaya

ANEN

(MENYESAL). Ah ... seharusnya aku tidak usah mengatakannya

kepadamu dan inilah akibat aku terlalu jujur kepadamu!

FATIMAH

Apa? Jujur? Kamu menganggap dirimu jujur heh? Jujurkah kamu

yang memancing-mancing aku jatuh cinta kepadamu sedang kamu

masih menjadi milik si Ikah?!

ANEN

Berilah aku kesempatan sekali saja berbicara dengan Ikah, untuk

menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Sesudah itu kita akan

mengumumkan pertunangan kita.

BI ATANG

Para tamu sekalian, mohon perhatian ... Ikah akan segera tiba

kehadapan kalian, tetapi ia lebih suka dipanggil Francesca! (IA

MENYISIH KE SAMPING, IKAH MUNCUL, IA MENGENAKAN

GAUN YANG MENGESANKAN DIHIASI KULIT BINATANG

BERBULU PADA LEHERNYA. SEBELAH TANGANNYA

MENGAYUN-AYUNKAN SEHELAI SAPU TANGAN SUTRA

YANG SELALU DILAMBAI-LAMBAIKAN APABILA BERJALAN

ATAU BICARA TANGAN LAINNYA MENJEPIT PIPA ROKOK

YANG PANJANG, DENGAN ROKOKNYA YANG BELUM

DINYALAKAN DAN INILAH GAYA HOLLYWOOD YANG

GILA ITU).

IKAH

(SETELAH BERHENTI CUKUP LAMA DI MUKA PINTU, IA LALU

MENGANGKAT TANGANNYA DENGAN SIKAP TERCENGANG

DAN GIRANG HATI) Oh ... halloo, halloo teman-temanku sayang

...! (IA MELUNCUR KE TENGAH DAN SEMUA TERBELALAK

KEHERANAN MENYAKSIKAN PEMANDANGAN INI). Hallooo

... Fatimahku sayang, betapa jelitanya kau sekarang ini! (MENCIUM

FATIMAH). Dan Anen, teman kecilku yang manis, bagaimana

kabarmu sekarang ini? (MENGULURKAN TANGANNYA TAPI

ANEN DIAM SAJA). Dan kau Otong, aduuh, aduuuuh betapa

menariknya engkau sekarang ini anak nakal! (MENCUBIT OTONG

DAN IA MENGELILINGI OTONG NAMPAK KETAKUTAN). Ci

– ci ... ! Kau dengan pakaian begini ini sungguh-sungguh laksana

produser super dari Jelambar dalam tata warna yang indah dari

warna aslinya! Ayo teman-temanku tersayang, silahkan duduk

... duduklah kalian dengan baik, biar aku bisa melihat kalian

dengan sejelas-jelasnya. (KETIKA KETIGA TAMU ITU DUDUK,

DILIHATNYA BAKI DENGAN GELAS-GELAS DI ATAS MEJA,

LALU IA MENGAYUNKAN TANGANNYA MENGERIKAN

TETAPI NAMPAK MENYERAMKAN). Oh ... Mamie, Mamie!!

BI ATANG

Ada apa sayang?

70

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

IKAH

Berapa kalikah harus aku katakan, Mamieku malang, bahwa sekali-

kali jangan menghidangkan air buah-buahan dengan gelas air biasa?

BI ATANG

Tapi ... aku tidak bisa menemukan gelas-gelas tinggi pesananmu itu.

IKAH

(MENGHAMPIRI BI ATANG DAN MENCIUMNYA). Oh Mamieku

malang ... (KEPADA BI ATANG) Ia begitu canggung bukan? Tapi

tak apalah sayang, jangan bersedih hati, mari, duduklah bersama

kami.

BI ATANG

Oh tidak usah, tidak usah, terimakasih anak Mamie, aku harus

pergi ke pasar.

IKAH

Oh ya? Jangan lupa daun seledriku itu ya Mam? (KEPADA BI

TETAMU). Terus terang, aku tak dapat hidup tanpa seledri, maklum

baru datang dari Amerika. Aku ini bagai kelinci saja, memamah

terus sepanjang hari.

BI ATANG

Nah, anak-anakku, maafkan aku harus meninggalkan kalian sebentar,

dan Anen, jangan lupa salamku buat ibumu! (MASUK).

FATIMAH

Ceritakanlah kepada kami tentang New Yorkmu itu Francesca.

Kami ingin sekali mendengarnya.

IKAH

(PENUH SUKA CITA). Ah ... New York, New York impianku ... !

ANEN

Berapa lama kau tinggal di sana Francesca?

IKAH

(SEPERTI KESURUPAN). 10 bulan, 4 hari, 7 jam, dan 20 menit.

OTONG

(KEPADA TETAMU). Dan ia masih berada di sana juga hingga

sekarang, juga mimpi-mimpinya!

IKAH

(PENUH EMOSI). Benar, aku merasa seolah-olah diriku ini masih

berada di sana. Seakan-akan aku tak pernah pergi meninggalkannya,

seakan-akan aku telah hidup di sana seumur hidupku, oh New

Yorkku tapi kalau aku melihat ke sekitarku ini (IA MELIHAT

KESEKITAR DENGAN GETIR). aku baru sadar, bahwa bukan,

71

Seni Budaya

bukan aku masih di sana, aku tidak lagi berada di New York, tapi

di sebuah kampung yang kotor dan udik, Jelambar ... ! (TIBA-TIBA

IA BANGUN DAN PERGI KE JENDELA, DAN IA TERDIAM,

MEMANDANG KAKI LANGIT). Oh ... New Yorkku sayang!

FATIMAH

(KEPADA TEMAN-TEMANNYA). Ah ... kukira kita ini tak

seharusnya berada di tempat ini, kawan-kawan, kita ini asing bagi

nona New York yang luar biasa ini.

ANEN

Benar katamu, seharusnya kita tidak mengganggu mimpinya yang

amat edan ini.

OTONG

Kalau begitu,mari kita ke luar saja dari sini, tapi secara diam-diam.

FATIMAH

Dan biarkanlah dia terus mengoceh dengan segala macam impian-

impiannya.

ANEN

(SAMBIL MEMPERHATIKAN IKAH). Apa anak gadis ini sungguh-

sungguh Ikah yang dulu jualan apem itu? Aku pikir dia ini Ikah

jadi-jadian.

OTONG

(MENIRUKAN GAYA IKAH) Oh New yorkku sayang ... ! oh

New Yorkku tersayang ... !

IKAH

(SAMBIL JALAN PUTAR-PUTAR). Dengar ... dengarlah kata-

kataku ini sahabat-sahabatku yang udikan ... ! Sekarang ini New

York musim semi ... musim semi jatuh di New York! Bunga-bungaan

baru saja bermunculan aneka warna di Central Park. Di Staten

Island, rumput-rumputan menghijau bak permadani. Sungguh ...

! Percayalah padaku, kalian tidak akan pernah mengerti! Sebab,

bagiku, tidak pernah menginjak persada New York, sama saja dengan

tidak pernah hidup di dunia ini! Pohon kami yang di New York

itu ... bukanlah sebuah permainan anak-anak, atau untuk olok-

olok kekanak-kanakan! Pohon itu telah ditakdirkan bagi segala hal

yang tinggi-tinggi dan indah. Bagi cara dan gaya hidup yang lebih

bersemangat dan lebih modern, yang lebih metropolitan dan lebih

berani. Pohon itu ditakdirkan bagi kemerdekaan umat manusia, dan

bagi pencakar-pencakar langit di Manhattan, bagi Copacabana dan

bagi Coney Island dimusim panas. Bagi makam Grant di Riverside

Drive dan bagi Selasa-Selasa malam di Eddie Condons bersama Will

Bill Davidson yang asyik masuk dengan terompet mautnya. Dan

bagi malam minggu-malam minggu di Madison Square Garden

bersama berjubelnya orang-orang yang melimpah ruah di kiri-kanan

72

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

jalan. Dan bagi kebun binatang Bronx, serta bagi Macys, dan bagi

perahu tambang yang murah ke Staten Island. Dan bagi pawai Hari

st. Patrick di Fith Avenue. Dan bagi semua rumah-rumah tinggal

elite di Greenxch Village. Dan bagi teater-teater urakan Peter Brook

dan Schechner di off Broadway dan off-off Broadway! Dan bagi

... (IA BERHENTI DENGAN GETARAN DAN KENANGAN).

Oh ... bagi segalanya yang tak mungkinlah bagi kalian untuk bisa

membayangkan dan membandingkannya dengan kehidupan kalian

di Jelambar yang jorok ini!

FATIMAH

(MENIRU GAYA IKAH) Ow ... ! tidak akan sejauh itu sayang ... !

Hanya ke belakang saja. Itulah tempat kita yang begitu menakjubkan

dan penuh kenangan. Tidak usah pergi ke seberang lautan, karena

di sini ... aduuuuuh ... lucunya !

OTONG

(MENIRU GAYA IKAH). Oh ... halaman belakang rumah Jelambar!

Bagiku, tak pernah menginjakkan kaki di Jelambar ini, sama saja

dengan tidak pernah hidup di dunia ini!

FATIMAH

Heh! Kutu loncat! Mau ikut enggak lu?

OTONG

Ke mana pun engkau pergi juwitaku, gadis impianku, ke sanalah

aku jadi buntutmu! (MEREKA MASUK).

IKAH

(SAMBIL DUDUK). Kelihatannya si Otong kita itu masih juga

begitu meluapnya mencurahkan rasa cintanya kepada si Fatimah.

(ANEN DIAM). Bangunlah, Anen! Jangan seperti patung Rodin

begitu. Dan amboi ... kenapa wajahmu begitu tampak menyedihkan?

ANEN

(SETELAH BERHASIL MENGUMPULKAN KEBERANIANNYA).

Ikah ... justru aku tak tahu bagaimana aku harus memulainya ...

IKAH

Panggil saja aku Francesca, itu sudah merupakan langkah pertama

yang baik.

ANEN

Ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepadamu Francesca.

Sesuatu yang sangat penting dan urgent.

IKAH

O ... itu Nen. Tetapi tidakkah akan lebih baik apabila kita lupakan

saja persoalan kita dulu?

73

Seni Budaya

ANEN

Melupakannya?

IKAH

Ya, itulah gaya New York, Anen. Lupakanlah! Tidak ada sesuatu

pun yang harus dihadapi dengan berkerut-kerut dahi. Tidak ada

sesuatupun yang harus kita selesaikan secara berlebih-lebihan. Kita

jangan terlalu banyak membuang-buang waktu, karena di Amerika

bahkan hampir seluruh bagian muka bumi, kita telah dilanda

krisis dan energi. Oleh karenanya, malam ini, berikanlah seluruh

hatimu kepadaku, besok lupakanlah! Dan apabila kita berjumpa

lagi, senyumlah, berjabatan-tangan dan anggaplah semua itu sebagai

sebuah permainan yang amat menyenangkan. Itulah gaya New York.

ANEN

Kau ini lagi ngomong apa Fra-ces-ca?

IKAH

Anen, pada waktu itu kau masih kekanak-kanakan. Aku belum

dewasa, karena aku belum ditempa oleh udara New York.

ANEN

Kapan?

IKAH

Ketika kau dan aku bertunangan dulu. Sebab, sejak saat itu, sudah

banyak sekali yang berubah pada diriku, Anen.

ANEN

Tapi ... itukan baru saja setahun yang lalu?

IKAH

Bagiku satu tahun seolah-olah sudah seabad, Anen, telah begitu

banyak yang berubah dalam diriku dan gaya hidupku. Lagipula,

apalah artinya setahun? Atau apakah artinya seseorang? Itu hanya

istilah-istilah tentang waktu yang nisbi belaka. Dan akan lebih banyak

lagi yang akan menimpa dirimu yang akan merubah pribadimu

apabila kamu setahun saja tinggal di New York, dibanding dengan

hidup kamu seumur-umur di tempat lain, kau tahu kekasihku yang

cupet, bahwa aku merasa, seakan-akan aku telah hidup lama sekali

di New York, dan secara rohaniah, aku masih tetap merasa sebagai

penduduk Manhattan, hingga sekarang. Dan kau tahu, ketika

pertama kalinya menginjak Manhattan, aku merasa seakan-akan

aku pulang ke tanah air sendiri, karena di situlah kandangku yang

sebenarnya, ow! Dengarlah musim panas yang lalu itu, sungguh-

sungguh panas ... rasanya. Itulah salah satu musim panas yang

pernah kami alami, yang paling panas lalu aku pergi naik sebuah

bis kota bertingkat dua, hanya sekedar untuk mencari angin. Dan

semua orang dari Kalamazoo dan People dengan tempat-tempat

lainnya yang semacam itu, pergi berkeliaran di jalanan. Pelesiran,

74

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

kau tahu, dan di situ, aku duduk di puncak bis kota memandangi

mereka ke bawah dan amat menyenangkan menyaksikan etalase-

etalase toko yang gemerlapan. Dan akupun merasa amat bangga

pula, karena tokokulah yang mereka kagumi itu. Tapi aku merasa

amat kasihan juga kepada mereka, karena tempat tinggal mereka

di pinggiran kota yang jorok seperrti di sini.

ANEN

Sudahlah, stop saja omonganmu itu. Aku tak ingin bicara tentang

New York atau Manhattan. Aku mau bicara tentang hubungan

kita selanjutnya.

IKAH

Dan itulah yang tak bisa kita lakukan. Anenku malang, karena

kita tidak perlu lagi bicara soal masa kecil yang tolol seperti itu.

ANEN

Kenapa tidak?

IKAH

Anen, kau telah bertunangan dengan seorang gadis yang bernama

Ikah. Nah, kau tahu gadis itu kini telah tiada lagi. Dia sudah

lama mati. Sedang yang kau hadapi sekarang ini bukan Ikah, tapi

Francesca! Mengerti?! Dan tahukah kau Anenku yang udik, bahwa

engkau kini adalah orang asing bagiku? Dan tahukah engkau jejaka

Jelambar bahwa aku merasa jauh ... jauh lebih tua dari kamu?! Aku

sesungguhnya adalah wanita dunia dan kau? Kau hanyalah seorang

anak ingusan dari Jelambar yang tak tahu kebersihan! (PAUSE). Tapi,

aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu, Anen, dan kuharap

kau bisa mengerti akan maksudku, bahwa kini tak ada lagi yang

bisa kita bicarakan tentang sebuah pertunangan antara kita dulu.

Dan kau tahu, bahwa bahwa kita tak akan bisa melangsungkan

pernikahan kita, karena itu hanyalah merupakan kepura-puraan

belaka. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang penduduk New

York bisa menikah dengan seorang laki-laki dari Jelambar! Itu akan

menjadi sebuah lelucon dunia saja!

ANEN

(MARAH). Tapi, coba kau lihat, sekelilingmu ini, nona New York?!

IKAH

(SANGAT TOLERAN). Ow! Maafkan jika aku telah melukai hatimu,

Anen. Ucapan-ucapan tadi, hanyalah didorong oleh keinginan

baik dari lubuk hatiku, agar anda tidak mempunyai pikiran yang

bukan-bukan, bahwa aku masih tetap bertunangan dengan anda.

ANEN

(BANGKIT). Aku duduk di sini bukannya untuk dihina dicaci

maki seperti itu nona gatal!

75

Seni Budaya

IKAH

Excuse me mister Anen! Maaf janganlah berteriak-teriak begitu,

janganlah menjadi orang yang lekas naik darah, karena itu sama

sekali tidak beradab bagi seorang modern. Setidak-tidaknya bagi

mereka yang tergolong high society, bagi orang-orang intelektual,

tindakan semacam itu adalah tindakan barbar.

76

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

ANEN

KERAS. Lalu apa yang kau harapkan dari diriku ini? Tersenyum

dan mengucapkan terimakasih atas penghinaanmu yang kelewatan

itu miss norak?!

IKAH

Tersenyum? Memang begitu seharusnya mister Anen, jadikanlah itu

senda guraumu. Tersenyumlah dan mari berjabat tangan sebagai

seorang kamerat setia, bukanlah demikian seharusnya?! (ANEN

DIAM DENGAN GERAM). Tabahlah, Anen ... lupakanlah itulah

gaya New York, dan carilah gadis lain yang sesuai dengan peradaban

kamu. Sebagaimana kata-kata orang Brooklyn, masih banyak pacar-

pacar lain, kau akan segera menemukan gadis lain ... seseorang

yang cukup menyamai kebiadabanmu.

ANEN

(SAMBIL MENGEPALKAN TINJUNYA). Seandainya kau bukan

perempuan seandainya kau bukan ... sudah ku ... sudah ku ... !

(OTONG DAN FATIMAH MUNCUL).

OTONG

Jangan Anen, jangan sekali-kali memukul perempuan!

FATIMAH

Apa artinya semua ini?

IKAH

Oh ... never mind, never mind, tak apa-apa sama sekali dia hanya

mengulang pengalaman masa kecil.

OTONG

Lalu apa yang sedang kalian pertengkarkan barusan?

IKAH

(TERSENYUM). O ... kami tidak bertengkar, Anen dan aku baru

saja memutuskan untuk berteman baik saja, tidak lebih dari itu.

FATIMAH

Benar, Anen?

ANEN

(GEMAS). Benar!

FATIMAH

(GIRANG). Wah, bagus! Sekarang sudah tiba saatnya kita umumkan

kepada mereka, Anen!

IKAH

Pengumuman apa, Fat?

77

Seni Budaya

OTONG

(BINGUNG). Lho ... lho ... lho, apa-apaan ini?

FATIMAH

(MENGGANDENG ANEN). Anen dan aku sudah bertunangan!

IKAH

(BANGKIT SERENTAK). Apa? Bertunangan?

OTONG

Ber-tu-na-ngan?!

FATIMAH

Benar, kami telah melangsungkan pertunangan kami secara diam-

diam sejak sebulan yang lalu.

IKAH

Sebulan? (MARAH KEPADA ANEN). Sialan! Kenapa kau ...

kenapa kau ... !

ANEN

(MUNDUR). Tapi ... aku telah berusaha menjelaskan semuanya

kepadamu Ikah, dan kau sendiri ... kau sendiri ...

IKAH

(MENJERIT). Biadab kau!

FATIMAH

Hah! Awas! Jaga mulutmu Ikah! Kau bicara dengan tunanganku!

IKAH

Dia bukan tunanganmu!

FATIMAH

Lho ... kenapa bukan?

IKAH

Dia bukan tunanganmu! Bukan karena dia masih bertunangan

denganku waktu kalian bertunangan!

FATIMAH

Tidak! Dia sudah tidak bertunangan lagi dengan kau! Baru saja

kau sendiri yang mengatakannya kepada kami!

IKAH

MENYESAL. Iya ... tapi itu karena kau belum tahu duduk perkaranya.

Aku tidak tahu tentang penghianatan ini! Cih! Tidak tahu malu,

mana mungkin bertunangan dengan kau, dia masih bertunangan

dengan aku! Perempuan tidak tahu diri! Perempuan murahan!

Apa aku tak boleh menolak, apabila seorang lelaki yang aku cintai

78

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

mencintai temannya pula?! (MENDEKATI ANEN). Dan kau!

Jahanammmm!

ANEN

(MUNDUR LAGI, LALU MENIRUKAN GAYA IKAH). Excuse

miss Francesca, maaf janganlah berteriak-teriak begitu, janganlah

menjadi orang yang lekas naik darah, karena itu sama sekali

tidak beradab bagi seorang modern, setidaknya bagi mereka yang

tergolong high society, bagi orang-orang intelektual, tindakan itu

semacam tindakan barbar!

IKAH

(MENANGIS). Oh ... aku tak pernah merasa terhina seperti ini

selama hidupku! Kamu binatang! Aku hajar kamu yang berani-

beraninya menghina aku!

FATIMAH

(MEMANDANGI IKAH). Ikah! Aku peringatkan kepadamu! Jangan

ganggu dia! Dia adalah tunanganku!

IKAH

Dan aku peringatkan kepadamu! Dia adalah tunanganku sebelum aku

putuskan hubunganku dengannya! Dan aku belum memutuskannya!

Mengerti?!

FATIMAH

Seharusnya kau malu kepada dirimu sendiri Ikah! Kenapa kau tak

rela menyerahkan orang lain yang tak berguna bagi dirimu sendiri

dengan baik-baik?

IKAH

Seharusnya kaulah yang harus malu kepada dirimu sendiri, merebut

tunangan orang di belakang punggungnya!

FATIMAH

(MAJU). Apa? Apa katamu?!

ANEN

(DARI JAUH). Otong! Tolonglah! Pisahkan mereka itu!

IKAH

(KETIKA ORANG MENDEKAT). Diam kau! Kau jangan ikut

campur urusan ini! Atau aku kemplang otak kepalamu!

OTONG

Busyet! Dasar anak-anak Jelambar! Main kemplang aja bisanya!

FATIMAH

Cewek nggak tahu malu!

79

Seni Budaya

IKAH

Elu yang nggak tahu malu! Ngerebut gacoan orang!

FATIMAH

Apa lu bilang?! Gue jambak lu! (MEREKA BERGULAT,

MERENGGUT FATIMAH DENGAN KERAS).

FATIMAH

Habis dia yang memukul duluan!

ANEN

Lihat tuh! Apa yang telah kau perbuat padanya itu?!

(OTONG MEREBAHKAN IKAH DI KURSI).

FATIMAH

Pasti membela dia! Selalu membela dia! Tak pernah bela aku laki-

laki macam apa itu!

ANEN

Diam! Tutup mulutmu!

FATIMAH

Aku benci! Aku benci kau! Aku benciiiiii ... !!!

ANEN

Tutup mulutmu, kataku! Atau kuremas-remas mulutmu nanti!

OTONG

(MELIHAT FATIMAH LALU MENINGGALKAN IKAH DAN

MEMBURU ANEN). Kau jangan gila! Jangan seenaknya saja sama

Fatimah!

ANEN

Diam! Kau jangan turut campur! Ini urusan pribadi!

FATIMAH

Lihat! Otong lebih ksatria dari pada kau! Dia mau membelaku.

OTONG

KEPADA ANEN. kau jangan coba-coba sentuh Fatimah, yah!

ANEN

Aku bilang kau jangan ikut campur, kecoa!

OTONG

Apa? Rasain nih! (MEMUKUL ANEN SAMPAI RUBUH).

80

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

FATIMAH

(BANGKIT). Otong ... ! kau telah menyelamatkan aku. Kau baik

sekali! Kau ... (MENANGIS. SEMENTARA ANEN JATUH IKAH

LALU BANGKIT DAN BERLUTUT DI SAMPING ANEN).

IKAH

(MENANGIS). Anen! Anen! Kamu tidak apa-apa bukan? Bukalah

matamu! Aku cinta padamu ... !

ANEN

(BANGKIT LALU MENYINGKARKAN TANGAN IKAH). Pergi!

Pergi! Jangan sentuh aku lagi! (IKAH DENGAN ANGKUHNYA

BANGKIT DAN PERGI KE JENDELA, ANEN DUDUK DI LANTAI

DAN TERMANGU).

OTONG

Tapi kau masih bertunangan dengan Anen bukan?

FATIMAH

Tidak! Aku benci padanya! Aku tak ingin melihatmu lagi seumur

hidupku! (MEMBUKA CINCINNYA DAN MELEMPARKAN

KEPADA ANEN). Ini! Aku kembalikan barangmu!

OTONG

Bagus! Mari kita pergi! (MEREKA PERGI DAN KETIKA MEREKA

SAMPAI DI PINTU ANEN TERSENTAK DAN MEMANGIL).

ANEN

Hai! Tunggu dulu!

FATIMAH

Kau jangan bicara dengan aku lagi, kutu loncat!

ANEN

Aku tak bicara dengan kau, monyet!

OTONG

Kau pun tak usah bicara lagi dengan aku! Kau telah menghina

gadis yang amat kucintai!

FATIMAH

(GEMBIRA MENATAP OTONG). Jadi ... jadi kau mencintai aku,

Otong?

OTONG

Benar sayang, aku sungguh-sungguh mencintaimu!

FATIMAH

(MEMELUK OTONG). Oh! Kenapa tidak kau ucapkan dari dulu-

dulu cintamu itu, Tong?

81

Seni Budaya

OTONG

(MALU-MALU). Habis ... habis, aku takut, tapi sekarang kau sudah

tahu aku cinta padamu?

ANEN

(MASIH DI LANTAI). Wah ... hebat! Kalau begitu aku bisa ucapkan

selamat pada kalian!

FATIMAH

(DINGIN). Mari kita segera pergi, sayang ... di sini suasananya

sangat memuakkan.

OTONG

Mari! (MEREKA PERGI SAMBIL BERPELUKAN. ANEN BANGKIT

DAN MEMBERSIHKAN PAKAIANNYA DARI DEBU DAN IKAH

TETAP BERDIRI DENGAN ANGKUHNYA MEMBELAKANGI

ANEN).

ANEN

Nah, kau sekarang telah betul-betul menghancurkan hidupku,

semoga kau puas nona New York!

IKAH

(MEMBALIK). Aku? Aku menghancurkan hidupmu?! Justru

sebaliknya kau yang telah menghancurkan hidupku!

ANEN

(MENDEKAT). Kau betul-betul harus dihajar!

IKAH

(MUNDUR). Jangan dekat-dekat aku! Kau anak berandalan!

ANEN

Jangan kuatir, aku tak akan menyentuhmu sama sekali bahkan dengan

tongkat sepanjang tiga meter pun aku tak akan sudi menyentuhmu!

IKAH

Dan aku tak akan sudi menyentuh kulitmu sekalipun dengan

tongkat sepanjang tiga meter setengah!

ANEN

Baru satu tahun saja tinggal di New York sudah belagu! Mentang-

mentang dari Amerika, tidak mau kenal lagi sama teman sekampung

norak lu!

IKAH

Baru satu tahun saja aku meninggalkanmu, kau sudah serong!

Lelaki macam apa kau ini?! Coba ingat, waktu kau mengikrarkan

pertunangan kita, kau bersumpah mati kepadaku. Kau berjanji akan

82

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

menantikan aku, dan aku percaya sekali kepadamu! Tapi buktinya?

Apa kau yang belagu! Banyak tingkah! Sok jadi play boy. Ini play

boy Jelambar! Apa?!

ANEN

Lalu apa yang kau tangisi sekarang? (MENIRU GAYA IKAH).

Lupakanlah! Itulah gaya New York. Tak ada sesuatu pun yang

harus dihadapi dengan berkerut dahi, tak ada sesuatupun yang

harus kita selesaikan secara berlebihan kita jangan terlalu banyak

membuang waktu dan energi.

IKAH

Oh ... Anen sudahlah ... aku menyesal ...!

ANEN

Dan kuharap kau bisa mengerti akan maksudku, bahwa kini, tak

ada lagi yang bisa kita bicarakan tentang sebuah pertunangan antara

kita dulu, dan kau tahu, bahwa kita tidak akan bisa melangsungkan

pernikahan kita, karena itu hanyalah akan merupakan pemblasteran

belaka. Bayangkan bagaimana mungkin seorang penduduk New

York menikah dengan seorang laki-laki dari Jelambar! Itu hanya

akan menjadi sebuah lelucon dunia saja!

IKAH

Anen ... sudahlah! Hentikan lelucon ini! Aku menyesal! Betul-

betul itu hanyalah ketololan saja! Kau mau memaafkanku bukan?

ANEN

Tidak! Tidak segampang itu kau meminta maaf ! Aku senang, senang

sekali melihat makhluk macam apa sebenarnya kau ini!

KAH

(MENDEKAT). Oh, Anen! Kau keliru! Kau salah! Aku sesekali

bukanlah orang yang semacam itu! Aku tak seburuk apa yang

kau kira barusan.

ANEN

Apalah artinya orang, bagiku? Itu hanya istilah yang nisbi belaka!

IKAH

Benar, Anen. Begitulah hal-hal yang telah diucapkan Francesca,

hal-hal yang bodoh dan pandir, tetapi Francesca sudah tak ada lagi

sekarang, dan gadis yang sekarang ada dihadapanmu ini adalah

Ikah, tunanganmu yang dulu!

ANEN

Dan dengan pakaian yang amat menggelikan ini?

83

Seni Budaya

IKAH

(MEMPERHATIKAN DAN MELURUSKAN BAJUNYA). Oh ...

inikan hanya bungkusnya doang, Anen, tetapi dalam lubuk hatiku

yang paling dalam, aku ini hanyalah seorang gadis Jelambar saja

yang mencintai setengah mati kekasihnya, seorang pemuda dari

Jelambar.

ANEN

Wah ... wah ... wah ...!

IKAH

Betul, Anen! Aku ini Ikah yang sungguh-sungguh, bukan Ikah yang

jadi-jadian! Kau masih ingat padaku, bukan? Ketika kita sama-sama

berenang di empang waktu anak-anak? Dan kini aku telah kembali

untukmu Anenku sayang!

ANEN

Dan kalau aku tidak salah ingat , aku dulu pernah bertunangan

dengan seorang gadis Jelambar bernama Ikah.

IKAH

Benar, dan hingga kinipun kau masih bertunangan dengan dia.

ANEN

(BERUBAH SEPERTI WAKTU LALU). Selamat datang, Ikah! Wah,

bagaimana dengan perjalananmu yang jauh dari seberang lautan?

IKAH

Wah! Sungguh-sungguh memuakkan, kekasihku! Dan aku tak bisa

tenang sebelum menginjak tanah Jelambar.

ANEN

Menyenangkankah tinggal di New York selama setahun?

IKAH

Oh, kampung ini selalu lebih menyenangkan dari pada di

Amerika!ANEN

Lalu kenapa surat-suratku tidak pernah kau balas?

IKAH

(SETELAH BERPIKIR SEJENAK). Ah ... si Francesca menyuruhku

selalu tak pernah mengijinkan aku untuk membalasnya.

ANEN

Sungguh-sungguh busuk gadis itu! Untung sekarang sudah ... (DARI

LUAR BI ATANG MEMANGGIL MANGGIL! “FRANCESCA”!

“FRANCESCA”! MEREKA DIAM, BERPANDANGAN, LALU

BERHAMBURLAH TAWA MEREKA).

84

kelas XI SMA/SMK/MA/MAK

semester 2

BI ATANG

(MUNCUL DARI DALAM) Frances ... eh Anen, kau masih di

sini, oh ya Francesca, jangan marah, aku tak dapat menemukan

seledri kesukaanmu.

IKAH

Ah nggak apa-apa Nyak! Aku memang nggak suka seledri!

BI ATANG

Lho! Katamu kau tidak akan bisa hidup tanpa seledri!

ANEN

(BANGKIT). Iya, itukan Francesca. Francesca sekarang sudah mati,

sedang yang ada di muka Bibi sekarang ini adalah Ikah, gadis

Jelambar yang denok.

BI ATANG

Tapi ... Francesca itukan Ikah juga ...

IKAH

Oh, bukan, Nyak, aku ini Ikah! Bukan Francesca!

BI ATANG

(MENATAP KEDUA ANAK ITU YANG TERSENYUM-SENYUM

LALU MENGANGKAT TANGAN DAN MASUK KE DALAM).

Yah ... apa boleh buat tapi aku menyerah! (DARI TETANGGA

TIBA-TIBA TERDENGAR SEBUAH LAGU BARAT, KEMUDIAN

IKAH TERTAWA DAN MENGIKUTI ALUNAN LAGU ITU).

IKAH

(KUMAT LAGI) Lagu ini! Amboi! Betapa indahnya kengan-

kenangan yang merasuki pembuluh-pembuluh nadiku ini ...

kudengar lagu ini untuk pertama kalinya di New York pada

pertunjukkan Eddie Conden ... !

ANEN

(MEMPERINGATKAN DENGAN TELUNJUKNYA) Nah, nah nah

ya kambuh lagi! Kesurupan lagi kan?!

IKAH

(SUNGGUH MENYESALI). Oh ... ! Maafkan aku, sayang !

(MEMELUK ANEN) Aku tidak sadar barusan.

ANEN

Tak apa-apa, maklum baru datang dari Amerika (MEREKA

TERTAWA).

IKAH

(MERAJUK) Sayang ...!

85

Seni Budaya

ANEN

Ada apa manisku ... ?

IKAH

Maukah Tuan aku masakkan semur jengkol?

ANEN

Wow! Dengan segala senang hati nona! (MEREKA TERTAWA

DAN MENARI LALU LAYARPUN TURUN).

- SELESAI -

(Naskah ini semula diterjemahkan oleh Tjetje Jusuf dengan judul:

“Sok New York di kampung Tondo”).

Sumber: Dok. Ally Roberts.

Gambar 7.1

Pementasan naskah adaptasi

dari karya Sophocles, “

Antigone”,

oleh

Teater The University of Minnesota, 2009.